Rabu, 05 Agustus 2015

Profil saya






Sekelumit Kisah Tentang Manusia Pembelajar






Baiklah, benar nama saya Nur Muhamad Tahajudin. Berasal dari keluarga berdarah  jawa tulen, Asli dari kabupaten semarang Hasil perkawinan dari 2 kabupaten semarang dan kabupaten Kendal.

 Allah lahirkan melalui rahim seorang perempuan mulia, Siti Arofah  namanya, pada tanggal 24 juli 1994. Lahir di rumah sendiri melalui bidan desa sekitar jam 01.00   malam waktunya  shalat tahajud dan ahirnya saya di beri nama tahajudin iya mungkin filosofinya  seperti itu , gemuruh tangis saya dimulai ketika sudah lahir di dunia yg fana ini yang sudah melalui perjanjian dg sang pencipta yang memberi nyawa sebelumnya saat masih di kandungan.

Sebagaimana anak yang lain, saya pun berkembang. Melihat, kemudian mencoba meniru, kemudian bisa. Hidup di daerah  dataran tinggi di kabupaten semarang di balik gunung ungaran tepatnya desa losari yang masih asri dan segar cuacanya dengan pemukiman penduduk yang sebagian besar berprofesi sebagai petani dan  pedagang . Salah satunya ibu saya yang berprofesi sebagai pedagang sayur pedagang turun temurun dari jaman mbah saya sampai ibu saya, berbeda dengan bapak saya yang berprofesi sebagai peternak ayam potong usaha dari keluarga bapak 3 bersaudara laki-laki semua dan sebagai peternak ayam.

Begitupun pendidikan, saya sama dengan anak yang lain. Mulai TK, MI, MTS,SMK  hingga kuliah. Tempat sekolah TK Nuril Huda berada di desa saya, saya tergolong anak yang bandel tetapi aktif di kelas suatu ketika karena saking bandelnya di marahin sama gurunya malah mengumpat di celananya gurunya yang pakai rok. ya  anak kecil maklumlah. hehe

Beranjak SD /MI, saya ikut pendidikan di MI Nuril Huda yang masih satu desa dengan saya letak sekolahannya. Seperti halnya anak yang lainya belajar tumbuh dan berkembang seperti halnya anak yang lainnya yang tidak terlalu pintar dan tidak terlalu bodo. yang sukanya kalau di kelas di tunjuk sebagai ketua kelas atau sie keamanan mungkin badan saya yang besar dan yang sering ribut sendiri di kelas. meskipun bandel pernah ada suatu kejadian ada suntik cacar dari pihak puskesmas saya pun mengajak bolos degan teman saya karena takut kalau di suntik. meskipun bandel pernah saat itu sudah kelas 6 ada pemeriksaan kuku dan kebetulan kuku tangan saya panjang dan di potong sama gurunya saya pun secara tidak langsung menangis dan di ejek sama teman - teman katanya “ wes gede kok nangis” . hehe

Setelah lulus MI saya melanjudkan sekolah lagi di MTS Nuril huda yang masih satu yayasan dari Nahdatul ulama dan terletak masih satu desa seperti halnya teman-teman yang lain. Teman – teman satu grombolan dari Mi ikut masuk bareng daftar di MTS kehidupannya masih sama terletak di desa sendiri tetapi teman sudah mulai bertambah dari berbagai desa tetangga  banyak yang ikut sekolah di MTS pengalaman pun bertambah. Di MTS aktif ikuta kegiatan pramuka, Pecinta Alam dan extrakulikuler olahraga.
Di bidang olahraga pernah mewakili ikut lomba Tenis meja tingkat kabupaten meskipun kalah.  Dan pernah suatu ketika ada agenda pecinta alam dan agendanya mau ngecam di suatu tempat di bukit yang tidak jauh dari sekolah, dan persiapan pun saya sudah lakukan menyediakan bekal 2 sarimi, satu botol air minum, pakaian penghangat dan uang 5.000 saat itu tahun 2008.
 Namun agendanya di rubah secara tiba-tiba oleh kakak Pembina di ubah muncak ke gunung ungaran mau tidak mau iya tetap ikut karena sudah persiapan meskipun persiapannya minim sekali dan itu ahirnya menjadi pengalaman muncak pertama dan pengalaman sangat kelaparan coba bayangkan persiapannya spt itu. hehe

Selepas MTS saya masuk di sekolah SMK Muhammadiyah sumowono yang masih satu kecamatan. 2 yayasan yang berbeda beralmamater TK.MI.MTS . di yayasan NU dan  SMK di yayasan Muhammadiyah. Di situ saya mengambil di jurusan Tehnik Otomotif. Aktif juga di organisasi OSIS bagian sie agama saat itu belum terbentuk rohis . iya kegiatannya mengajak siswa untuk sholat dhuha dan berjamaah di masjid dan mengadakan acara acara keislaman. masih sama dari MI.MTS dan SMK sering di jadikan ketua kelas meskipun kalau di kelas sebenarnya bandel tdk bisa di buat panutan iya apalagi karakteristiknya anak otomotif satu kelas laki-laki semua iya begitulah kondisinya,. paling suka dulu kalau pelajaran kemuhamadiyahan pasti berdebat dengan gurunya masalah sholat terutama mengapa bacaan basmalah, qunut dan puasa ramadhan. iya mungkin karena didikan saya NU dan belum paham dg hal itu, meskipun masalah seperti itu dahulu belum paham. seiring berjalannya waktu tiba saatnya untuk wisuda smk dengan senang hatinya masa-masa putih abu-abu sudah selesai berlanjud ke kehidupan yang baru kehidupan yang nyata.

Iya saat itulah saya  bingung mau ngapain setelah lulus. iya sebenarnya SMK cocok langsung di dunia kerja tetapi kerja juga  mau kerja apa dan lapangan pekerjaan masih sedikit. Mainsaid berfikir untuk kuliahpun tidak ada di benak saya saat itu inginnya langsung kerja dapat uang, Tetapi saran dr orang tua kalau missal mau bekerja ya cari yang layak dan berguna bagi sesama. seperti halnya doa saat saya lahir “semoga menjadi anak yang soleh dan berguna bagi agama keluarga dan bangsa, serta ikut andil dalam negara itulah salah satu filosofi hidup saya sampai saat ini.sejak  itulah mulai berfikir dan ahirnya di suruh mendaftar polisi dan saya mencoba untuk mendaftar yang pertama dan gagal karena kurang persiapan dan mencoba daftar kembali ke 2 kalinya di tahun berikutnya dan gagal lagi meskipun segala upaya sudah di persiapkan.

Saat itu penyemangat diri hanya bisa berserah kepada ilahi sambil memotifasi diri . Dan saya yakin Allah pasti mempunyai rencana yang lebih indah dalam hidupku.

Setelah itu sempat berhenti satu tahun dan mendaftar di UNNES ambil jurusan Pendidikan olahraga. Di situlah rencana Allah lebih indah tidak jadi polisi. Dan apa yang terjadi di bangku perkuliahan sungguh luar biasa rencana Allah dunia yang tidak pernah saya bayangkan di situ saya banyak mendapatkan pembelajaran.

Saat ini masih aktif kuliah dan aktif organisasi.

Karena selamanya hidup kita belajar.

 “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.
Al-Qur`an surat Al-Mujaadilah ayat 11 :

Sabtu, 01 Agustus 2015

Manusia pembelajar




manusia pembelajar merupakan mereka yang memahami akan arti dan hakikat hidupnya. Mengapa? Karena ini adalah dasar dari segalanya, sebelum ia mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya bahkan pribadinya sendiri, maka pemahaman akan hakikat hidup manusia menjadi sebuah kebutuhan sejati, karena mereka menjadi lebih tahu serta memiliki objektifitas dalam mengembangkan potensi yang mereka miliki untuk menjadi pribadi yang ideal.
Potensi yang ada haruslah dikembangkan secara seimbang (balance) sehingga tidak tumpang tindih satu sama lain. Karena 3 potensi dasar tersebut, yaitu moral, intelektual, dan fisik merupakan sebuah kesatuan utuh yang perlu dikembangkan. Sehingga efeknya mereka mampu berfikir, memahami dan melaksanakan apa yang diinginkannya dengan fokus yang nantinya akan berbuah pada bingkai yang positif.
Pada dasarnya setiap manusia yang diciptakan Tuhan berbeda-beda bentuknya, karakter, kegemaran, bahkan pemikirannya sekalipun. Secara psikologis tipe manusia pembelajar ini umumnya mereka memiliki karakter atau sifat dan sikap yang tidak cepat berputus asa atau pantang menyerah. Hal tu terjadi karena keinginan untuk belajar yang tumbuh dalam hati tipe manusia ini sangat kuat dan tidak mudah digoyahkaan. Selain itu, mereka (manusia pembelajar) selalu berusaha untuk mencapai tujuannya walaupun ada rintangan yang menghalanginya. Contohnya saja seperti mau belajar tanpa memandang tempat, waktu, bahkan siapa yang mengajar/sekecil apapun hal yang bisa dipelajarinya. Yang ia tahu hanyalah ia harus terus belajar agar menjadi manusia yang ideal. Jadi, tidak mengherankan jika tipe manusia pembelajar ini memiliki pandangan akan kehidupan dan tujuan hidup yang ingin dicapainya. Oleh karena itu keberadaan manusia sebagai pencipta kebudayaan seperti mengembangkan diri menjadi manusia pembelajar tak terlepas dari kemampuan atau daya yang dimiliki seperti akal, intelegensia dan intuisi, perasaan dan emosi, kemauan, fantasi, dan perilaku.
Mahasiswa merupakan salah satu contoh dari manusia pembelajar. Status mahasiswa yang hari ini kita miliki bersama- sebagai seorang yang sedang mengalami proses pendidikan formal adalah bagian kecil (part of) manusia pembelajar. Bukan sekedar mengejar prestasi akademis semata, karena kita (mahasiswa) memiliki peran penting dalam menentukan nasib bangsa nantinya. Mahasiswa adalah orang-orang yang dituntut untuk membawa angin segar perubahan, menjaga nilai-nilai postif yang ada di masyarakat, dan tentunya menjadi stok yang selalu siap untuk dimanfaakan bangsanya.

Jumat, 31 Juli 2015

Belajar akademik


Belajar akademik

"Cara memutus rantai kemiskinan dengan cara pendidikan atau berwirausaha"
Salah satu anggapan dari tokoh pendidikan nasional.

Belajar akademik yang sifatnya belajar secara formal baik dari SD, SMP, SMA  dan KULIAH.
Belajar akademik yang ada setandar-standar khusus untuk mengetahui seberapa kecakapan dan kepandaian seseorang dalam hal ilmu pengetahuan.
Belajar akademik yang identik dengan teori-teori yang di pelajari dalam ruangan kelas.
Belajar akademik yang identik di tentukan oleh sebuah nilai-nilai dalam angka.
Siapa yang mendapatkan angka paling banyak dialah yang di anggap pintar dalam hal akademik dan pandai di dalah kelasnya.

Kemajuan suatu bangsa bisa di lihat dari saat ini, seberapa banyakkah orang-orang yang berpendidikan.


Belajar Kehidupan

Belajar kehidupan
Manusia yang sejatinya manusia pembelajar yang beranggapan bahwa belajar merupakan kewajiban bagi setiap orang.
Belajar di mulai sejak kita di lahirkan  sampai kita meninggal dunia.
Belajar merupakan suatu kebutuhaan bagi setiap manusia untuk senantiasa selalu mendapatkan pengetahuan baru.
Seiring berjalannya waktu dunia pun sangat ketat persaingannya siapa yang kuat maka dia yang menang.
Melalui belajarlah hal itu semua bisa di atasi dengan baik.
karena manusia pembelajar mempunyai hasrat yang tinggi akan sebuah ilmu pengetahuan.
Dan bagi saya Belajar itu ada 2 macam :
1. Belajar kehidupan
2. Belajar akademik

 Belajar kehidupan belum tentu ada di dalam ruang - ruang kelas ataupun bangku perkuliaha, banyak di dapatkan di luar pintu dan jendela ruang kelas atau perkuliahan.
Di dalam ruang kelas dan perkuliahan yang banyak di pelajari tentang banyak teori-teori tentang sebuah ilmu pengetahuan yang belum tentu ilmu itu langsung bisa kita terapkan di dalam kehidupan sehari hari.

Dan saat ini hal yang paling pas bagi mahasiswa kususnya saat liburan kuliah memanfaatkan waktu
untuk belajar hal baru demi menambah pengetahuan khususnya belajar sesuatu yang tidak di dapatkan di bangku perkuliahan.

Meskipun ada banyak mahasiswa yang menghabiskan waktunya untuk Traveling, Membantu orang tua di rumah, bekerja itu merupakan suatu pilihan bagi setiap masing-masing itu semua mungkin cara belajar kehidupan untuk mereka.

Rabu, 13 Mei 2015

Manajemen Waktu Kuliah dan Organisasi

Manajemen Waktu Kuliah dan Organisasi


Seorang mahasiswa akan memperoleh nilai tambah, jika ia tidak hanya sibuk dengan nilai akademis tetapi juga aktif berorganisasi. Mengapa dikatakan nilai tambah? Karena dengan berorganisasi, ia bakal terbiasa bekerjasama dengan orang lain (work as a team), memiliki jiwa kepemimpinan (work as a leader), terbiasa bekerja dengan manajemen (work with management). Di masa depan, skill tersebut sangat dibutuhkan ketika memasuki dunia yang sebenarnya. Tetapi kadang seorang mahasiswa aktivis organisasi menemui kendala dalam membagi waktu antara kuliah dan organisasi. Ada beberapa tips yang dapat diterapkan:



1. Tentukan atau renungi kembali visi hidupmu
Visi adalah pandangan ke depan yang menggambarkan jadi apa kamu kelak. Misi adalah hal-hal yang dilakukan untuk mencapai visi. Visi adalah jawaban atas pertanyaan,
“Apa yang paling penting bagimu?”, “Apa yang memberi makna dalam hidupmu?”, “Kamu ingin jadi apa dan apa yang ingin kamu lakukan dalam hidupmu?” Jadi, bila visimu adalah “Mahasiswa Plus”, memang seharusnya kamu merencanakan dan mengatur segalanya
2. Aturlah hal-hal berikut:
a. Waktu.
Biasakan memenej perencanaan waktu. Buatlah jadwal kuliah dan kegiatan organisasi dalam satu timeline yang detail – baik hari, jam, dan tempatnya. Kamu bisa menulisnya di ponsel atau di buku agenda.
b. Prioritas

• Kuadran I:
Dahulukan yang penting dan mendesak, yaitu: krisis-krisis, pekerjaan –pekerjaan yang memiliki deadline, sakit atau kecelakaan- dan harus segera ke dokter, dsb.
• Kuadran II:
Penting tapi tidak mendesak. Ini adalah kuadran kualitas. Perencanaan jangka panjang, mengantisipasi dan menanggulangi masalah-masalah, memberi wewenang pada orang lain, memperluas cakrawala berpikir (membaca buku, surfing internet), membangun hubungan sosial (menengok orang sakit, menghadiri undangan perkawinan, dll).
• Kuadran III:
Bayang-bayang dari Kuadran I. Kuadran ini seesungguhnya, tidak penting tetapi kadang penting lagi mendesak. Kuadran III adalah kuadran tipuan. Jangan salah nilai! Kita kerap mengira aktivitas tertentu adalah aktivitas Kuadran I yang mana kadang terlihat mendesak, padahal tidak (telepon yang berdering, bunyi sms, kunjungan tamu dadakan). Kalaupun penting, mungkin bagi orang lain – but might be not for you.
• Kuadran IV:
Kuadran pemborosan. Ini terjadi karena kita sering terjebak pada Kuadran I dan III sehingga kita sering melarikan diri ke Kuadran IV untuk bertahan; nonton TV/VCD/main game hingga kecanduan, membaca novel picisan hingga “muak”, ngerumpi tanpa batas.
Cobalah senantiasa mencermati prioritasmu dan usahakan selalu berada di Kuadran II dan sekali di Kuadran I –jika memang sangat mendesak. Jangan tertipu dan terjebak di Kuadran III dan IV.
c. Komunikasi.
Biasakan bersikap dan berkomunikasi asertif. Contoh: besok, kamu menghadapi ujian semester. Akan tetapi, kamu juga memiliki agenda rapat yang – nampaknya-mendesak. Dalam situasi ini, kamu harus berani mengatakan tidak –tapi tetap dalam koridor kesantunan. Ujian semester adalah Kuadran I, sedangkan rapat organisasi, boleh jadi, penting bagi orang lain, tapi mungkin tidak bagimu. Rapat bisa diganti waktu lain, namun ujian semester tidak bisa.
d. Jangan menunda pekerjaan.
Menunda pekerjaan adalah kebiasaan buruk dan tidak bertanggungjawab yang menyebabkan kita kerap terjebak pada Kuadran I secara membabibuta. Kita bisa tiba-tiba merasa semua pekerjaan pada deadline-nya. Padahal jika kita terbiasa mencicil pekerjaan-pekerjaan yang diamanahkan atau dibebankan pada kita, tidak akan berakhir sedemikian naasnya. Biasakanlah setiap hari: membaca kembali kuliah yang diberikan dosen, meringkas buku diktat kuliah, merencanakan kegiatan setiap hari. Meski terasa berat di awal, namun kamu bakal memetik hasil yang menyenangkan di bagian akhir dalam hidupmu, Insya Allah.